Kamis, 29 Oktober 2015

Karakteristik Al Mu'minun

A.  Pengertian Al Mu’minun

Secara bahasa, iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah “Mengucapkan dengan lisan , membenarkan dalam hati, dan mengamalkan dalam perbuatannya.” Orang yang beriman disebut dengan Orang Mukmin, Al Mukminun mempunyaai arti Orang – Orang yang  beriman.[1]

B.   Konsekuensi Keimanan

1.      Mencintai Allah dan Rasulnya melebihi dari mencintai segala sesuatu termasuk dirinya sendiri.
2.      Mendengar dan menaati semua yang datang dari Allah swt. Dan rasul-Nya tanpa merasa berat dan tanpa memilah – milah
3.      Rida terhadap semua yang datang dari Allah Swt. Dan Rasul –Nya , baik hal tersebut disukainya maupun tidak disukainya tanpa menghilangkan Usaha.
4.      Loyalitas yang penuh kepada Allah kepada Allah Swt. Rasul –Nya, Orang – orang yang beriman dan tidak memberikan loyalitas kepada yang dibenci Allah Swt.
5.      Takut hanya kepada Allah Swt. Takut tidak mendapat kasih sayang – Nya dan takut bermaksiat kepada – Nya.
6.      Berhukum dengan Syariat Allah Swt dan menolak Hukum yang bertentangan dengan syariat – Nya
7.      Selalu beramal Shalih , meninggalkan maksiat dan berjihad dijalan- Nya untuk menegakkan Kebenaran

C.  Sifat – Sifat Orang beriman

1.      Jika disebut nama Allah Swt. Bergetar hatinya karena cinta, harap dan takut kepada – Nya. Jika dibacakan Al Qur’an bertambahlah keimanannya, dan mereka selalu bertawakkal kepada –Nya[2]
2.      Mereka senantiasa mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezekinya untuk orang fakir, miskin, dan Anak yatim.
3.      Beriman kepada rukun Iman yang enam dengan keimanan yang sempurna tanpa rasa Ragu – Ragu sedikitpun. Berjihad dengan harta , dan jiwa raga mereka untuk menegakkan kebenaran.

D.  Hal – hal yang Dapat meningkatkan Keimanan

1.      Ilmu Yaitu : dengan meningkatkan ilmu tentang mengenal Allah seperti makna dari Nama – Nama –Nya , sifat – Sifat-Nya dan perbuatan- Nya. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang terhadap Allah dan kekuasaan – Nya , maka semakin bertambah tinggi Iman dan pengagungan serta takutnya kepada Allah Swt.
2.      Merenungkan ciptaan Allah Swt. Keindahannya , keaneka ragamannya, dan Kesempurnaan-Nya. Maka kita akan pada simpulan : siapa yang merancang, menciptakan, dan mengatur semua ini ?  Jawabannya Hanyalah Allah !
3.      Senantiasa meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan maksiat kepada-Nya.

E.  Buah Keimanan

1.      Membebaskan jiwa kita dari perbudakan manusia, dan semua makhluk menuju kemerdekaan yang hakiki, yaitu penghambaan kepada Allah swt saja
2.      Membangkitkan keberanian membela kebenaran , tak takut mati, serta cinta syahid.
3.      Merasa tenang karena jelas  tujuan hidupnya , yaitu mengapai keridhaan Allah Swt. Hasilnya ia akan  mendapatkan berbagai kebaikan yang banyak di dunia sebelum kenikmatan diakhirat kelak , berupa perlindungan –Nya, petunjuk- Nya, pertolongan –Nya, penjagaan- Nya, mengokohkan kehidupan- Nya dan datang barakah (kebaikan yang banyak) baik dari langit maupun dari Bumi untuknya.
4.      Hidupnya berada dalam ketenangan lahir batin , karena ia hidup dalam cahaya Hidayah Allah Swt. Sehingga ia tidak menzalimi Orang lain maupun dirinya sendiri.[3]

Lafal dan terjemahan Surat Al Baqarah : 285

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥
Artinya : Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali"

A.  Lafal dan terjemahan Surat Al Anfal : 2 – 4

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٢ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ٣ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٤
Artinya :  
2.    Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal
3.    (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka
4.    Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia

a)   Tafsir Surat al Anfal : 2 – 4

Sesungguhnya  orang – orang mukmin yang sempurna Imannya ialah orang – orang yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, apabila dibacakan ayat – ayat –Nya bertambahlah iman mereka, mereka yang mendirikan Shalat, Membelanjakan Hartanya di Jalan Allah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.[1]

B.  Isi kandungan Surah  Al Anfal : 2 – 4

Surat ke – 8 Adalah surah Al Anfal terdiri dari 75 ayat, termasuk dalam surat Madaniyah. Surah ini dinamakan al Anfal karena kata – kata al Anfal terdapat pada permulaan Surat ini dan yang paling menonjol dalam surat ini adalah Harta Rampasan perang. Surat ini juga dinamakan Surat Badaratul Kubra, kaarena diturunkan berkenaan dengan perang badar Kubra, yang terjadi pada tahun kedua hijriah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah perkembangan islam. Pada waktu itu Umat Islam dalam peperangan ini memperoleh harta Rampasan yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, timbullah masalah bagaimana membagi harta rampasan perang itu.[2]

C.  Hikmah yang dapat diambil dari Surah al Anfal 2 – 4

1.    Perintah untuk bertakwa kepada Allah dan perintah untuk memperbaiki diri
2.    Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan
3.    Diantara kaum mukminin ada yang sempurna imannya dan ada yang kurang
4.    Diantara sifat Orang mukmin yang sempurna imannya adalah apa – apa yang disebutkan pada ayat kedua dan seterusnya dalam surat ini[3]

D.  Lafal dan terjemahan Surat At Taubah : 71 - 72

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٧٢
Artinya :
71. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
72. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ´Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar

E.  Lafal Surah Al Mu’minun ayat 1 – 11

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢  وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤  وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩  أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١١
Artinya :
1.      Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.
2.      (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya
3.      dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.
4.      dan orang-orang yang menunaikan zakat
5.      dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
6.      kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela
7.      Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
8.      Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
9.      dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
10.  Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi
11.  (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya

F.   Lafal Surah Al Hujurat ayat 15

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ١٥
Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar

G. Isi kandungan Surah Al Hujurat

Surah al Hujurat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat madaniyyah, diturunkan sesudah surah Al Mujadalah. Surat ini diambil dari ayat 4 dari kata al hujurat . ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad yang sedang berada  di dalaam kamar rumahnya bersama Istrinya. [4]


H.      Tafsir Surah Al Hujurat ayat 15

Dalam ayat ini Allah  Taa’ala memperkenalkkan kepada mereka dengan Iman yang benar sebagai ajakan kepada mereka agar mereka beriman, mereka yang beriman tidak ragu – ragu selamanya dalam keshahihan apa yang mereka Imani. Mereka memerangi jiwa mereka , maka bersiap – siaplah untuk melaksanakan kewajiban syariat, baik dalam waktu senang maupun sususah sebagai mana mereka juga berjihad. Berperang bukan untuk tujuan materi melainkan untuk mencari Ridha Allah untuk meninggikan kalimat Allah dalam pengakuan Iman mereka[5]

I.     Hadist Tentang Amal dan Pertanggung Jawaban Manusia

1)      HR. Muslim 4816
حَدَّثَنَا أَبوُ بَكْرِ بْنِ أَبِيْ شَيْبَة وَبْنُ نُمَيْرٍ قا لَ حَدَّ ثَنَا عَبْدُ الله بْنِ إِدْ رِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ  بْنِ يَحْيَ بْنِ حَبَّانَ عَنْ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِي  هُرَيْرَة قَا لَ رَسُولُ الله صَلىَ اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيَّ خَيْرٌ وَ أَحَبُّ إِلَى  اللهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَعِيْفْ وَ فِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعْنْ بِالله وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَا بَكَ شَيءٌ فَلاَ تَقَلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَا نَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ الله وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفَّتَحُ عَمَلَ الشَيْطَانِ
Telah bercerita kepada kami Abu Bakar Bin Abi syaibah bin Numair telah bercerita kepada kami Abdullah bin Idris dari Rabi’ah bin ‘Utsman dari Zaid bin Muhammad bin Yahya bin Habban dari ‘Araj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw bersabda : Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt daripada orang mukmin yang lemah pada masing – masing memang terdapat kebaikan.Capailah dengan sungguh – sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu  mengatakan, “ seandainya tadi saya berbuat begini  dan begitu, niscaya tak akan menjadi begini dan begitu tetapi katakanlah ; ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki – Nya pasti akan dilaksanakan – Nya Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan  jalan bagi godaan syetan.


[1] Al Imam Jalaluddin al Mahalli, Tafsir Jalalain , (Surabaya : PT ELBA FITRAAH MANDIRI SEJAHTERA, 2010) hlm 682
[2] Departemen Agama Republik Indonesia, Al qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta : PT DANA BHAKTI WAKAF, 1991) hlm 689
[3] Al Imam Jalaluddin, Op. Cit.,
[4] Departemen Agama Republik Indonesia, Al qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta : PT DANA BHAKTI WAKAF, 1991)  Hlm 415
[5] Al Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir, Tafsir Al Aisar , ( Jakarta : Darus Sunnah, 2009) hlm 924



[1] Nabiel Fuad almusawa, Pendidikan Agama Islam, (Bandung : Syamil Ciptaa Media, 2005)  Hlm 28
[2] Nabiel Fuad almusawa, Pendidikan Agama Islam, (Bandung : Syamil Ciptaa Media, 2005)  Hlm 28 -29
[3] Ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar